Selasa, 21 Desember 2010
eyesenk
TUGAS MAKALAH
Mata Kuliah Psikologi Kepribadian II
Kelas C
Kelompok :
Afifah Nuraini 110911162
Mitchaelly Anisszahra 110911202
Novita Dwi Pwedany 110911207
Hetty Sulistyo W 110911208
Andini Regina F P 110911217
Merlinda Dyah 111011120
I. Sejarah Kehidupan
Hans Jürgen Eysenck, pria kelahiran Berlin 4 Maret 1916 ini adalah seorang psikolog yang menggunakan pendekatan behaviorisme dalam melihat kepribadaian manusia. Meskipun Eysenck seorang behavioris, namun ia lebih cenderung melihat perbedaan kepribadian melalui faktor keturunan atau genetika, maka tak heran jika banyak teori yang dihasilkannya didasarkan pada fisiologi dan genetika.
Kedua orangtua Eysenck yang berasal dari kalangan selebritis berharap besar kelak Eysenck akan menjadi seorang aktor. Namun sayang karena kedua orangtuanya bercerai, Eysenck kecil yang berusia dua tahun harus tinggal bersama neneknya. Ketika Nazi berkuasa di Jerman, Eysenck yang merasa tidak senang dengan rezim Nazi memilih pindah ke Inggris setelah tamat SMU, kemudian melanjutkan studinya di University College London hingga ia mendapat gelar Ph.D. dalam bidang psikologi.
Selama Perang Dunia II, Eysenck bertugas di sebuah rumah sakit jiwa Mill Hill Emergency Hospital yang merawat sebagian besar pasien dari kalangan militer. Keadaan yang membuat rumah sakit ini berkembang dengan pesat dalam bidang psikiatri sosial.
Setelah Perang Dunia II usai, Eysenck mengajar psikologi di almamaternya, dan diangkat sebagai direktur Departemen Psikologi pada Lembaga Psikiatri, yang meliputi Mansley Hospital dan Bethlem Royal Hospital; dan di tempat- tempat inilah beliau banyak melakukan riset. Eysenck diundang ke Amerika Serikat untuk menjadi dosen tamu di Universitas Pensyllvania selama 5 tahun sejak 1949. Pada musim panas 1954, Eysenck mengajar di Universitas California. Pada tahun ini pula ia diangkat sebagai guru besar psikologi di University College London.
Oleh para pengkritiknya, Eysenck sering dianggap sebagai seorang yang serba bisa dan ahli membuat teori (meskipun banyak juga teori yang didukung oleh hasil penelitiannya). Nampak kesamaan corak dalam rumusan theoretic-nya dengan karya ahli- ahli tipologi Eropa daratan seperti Jaensch, Jung, Kraeplin dan Kretschmer. Sebagai penulis, Eysenck sangat produktif, George Boeree ―dalam Personality Theories: Melacak Kepribadian Anda Bersama Psikolog Dunia― mengatakan, Eysenck telah menulis 75 buku dan lebih dari 700 artikel. Sebagian buku hasil goresan pena Eysenck yang terpenting antara lain Dimension of Personality (1947), The Scientific Study of Personality (1952) dan The Structure of Human Personality (1953).
Eysenck adalah seorang ahli teori biologi dan hal ini membuatnya terinspirasi untuk melakukan penelitian pada komponen-komponen biologis dari kepribadian. Dia mengatakan bahwa intelegensi merupakan sesuatu yang diturunkan sejak lahir. Ia juga memperkenalkan konsep ekstroversi (introversi-ekstraversi) dan neurotisme (neurotik-stabil) sebagai dua dimensi dasar kepribadian. Dia percaya bahwa karakteristik kepribadian dapat diuraikan berdasarkan dua dimensi tersebut, yang disebutnya dengan "Supertraits".
Pensiun pada 1983, Eysenck terus berkarya hingga beristirahat dengan tenang di London, 4 September 1997 pada usia 81 tahun.
II. Prinsip Dasar
Teori Eysenck sebagian besar didasarkan pada fisiologis dan genetika. Walaupun dia adalah seorang behaviorist yang lebih menekankan perilaku yang dipelajari, namun dia menganggap perbedaan kepribadian lebih disebabkan oleh faktor keturunan. Oleh karena itu dia sangat tertarik pada persoalan temperamen.
Eysenck berpendapat dasar umum sifat-sifat kepribadian berasal dari keturunan, dalam bentuk tipe dan trait. Namun dia juga berpendapat bahwa semua tingkah laku dipelajari dari lingkungan. Menurutnya kepribadian adalah keseluruhan pola tingkah laku aktual maupun potensial dari orgnisme, sebagaimana ditentukan oleh keturunan dan lingkungan. Pola tingkah laku itu berasal dan dikembangkan melalui interaksi fungsional dari empat sektor utama yang mengorganisir tingkah laku; sektor kognitif (intelligence), sektor konatif (character), sektor afektif (temperament), dan sektor somatik (constitution).
Corak yang khas pada pendapat Eysenck ini dinyatakannya secara eksplisit tentang “faktor somatic”. Perhatian nya terhadap faktor konstitusional ini timbul dari pengalaman praktis, dimana dalam tugasnya Eysenck sering menggunakan tubuh sebagai variable kepribadian yang relevan. Hal yang sentral dalam pandangan Eysenck mengenai tingkah laku adalah pengertian sifat (trait) dan tipe (type). Dia memberi definisi sifat sebagai sebuah kecenderungan tindakan individu yang dapat diamati. Sedangkan tipe didefinisikan sebagai sebuah sindrome sifat yang dapat diamati. Jadi tipe lebih luas daripada sifat, dan mencakup sifat sebagai komponennya.
Eysenck juga seorang psikolog peneliti. Salah satu metode yang ia pakai adalah teknik statistik yang disebut analisis faktor. Teknik ini menyaringkan beberapa aspek dari sekian banyak data yang terkumpul. Dalam penelitiannya Eysenck menemukan dua dimensi temperamen : neurotisme dan ekstraversi-introversi.
III. Struktur
H.J.Eysenck mempunyai pendapat yaitu banyak para ahli-ahli teori kepribadian yang terlalu banyak mengemukakan variable-variable yang kompleks dan tidak jelas. Lalu Eysenck mengkombinasikan pendapatnya dengan analisisnya, yaitu analisis faktor. Analisis faktornya telah menghasilkan sistem kepribadian yang ditandai dengan adanya sejumlah kecil dimensi-dimensi pokok yang didefinisikan dengan teliti dan jelas, yaitu sebagai berikut :
1. Kepribadian
Menurut Eysenck kepribadian adalah kepribadian adalah jumlah-total dari aktual atau potensial-pola perilaku organisme yang ditentukan oleh keturunan dan lingkungan. itu berasal dan berkembang melalui interaksi fungsional dari empat sektor utama di mana pola-pola perilaku atau sektor konatif (karakter), sektor afektif (temperamen), dan sektor somatic (konstitusi).
Corak yang paling khas pada pendapat Eysenck ini adalah dinyatakannya secara eksplisit tentang faktor somatic. Faktor konstitusional ini ada karena pengalaman praktis, dimana Eysenck sering menggunakan tubuh sebagai variable kepribadian yang relevan.
Pendapat pandangan Eysenck yang luas dan menyeluruh banyak mengandung persamaan dan penyesuaian dengan pendapat Allport. Hans Eysenck menyatakan bahwa kepribadian dapat digambarkan berdasarkan pada tiga faktor fundamental: psychoticism (sifat-sifat antisosial seperti kekejaman dan penolakan terhadap kebiasaan sosial), introvert-keterbukaan, dan emosionalitas-stabilitas (juga neurotisisme disebut). Eysenck juga merumuskan kuadran berdasarkan memotong sumbu emosional-stabil dan introvert-ekstrovert.
Pandangan Eysenck mengenai tingkah laku adalah pengertian-pengertian sifat (trait) dan tipe (type). Suatu sifat hanyalah suatu keajegan yang nampak diantara kebiasaan- kebiasaan atau tindakan-tindakan yang diulangi daripada subyek.
2. Struktur Kepribadian
Eysenck berpendapat bahwa kepribadian tersusun atas tindakan-tindakan, disposisi-disposisi yang terorganisasi dalam susunan hirarkis berdasarkan umumnya dan kepentingannya. Diurut dari yang paling tinggi dan paling mencakup ke yang paling renadah dan paling khusus adalah :
• Type
• Trait
• Habitual response
• Specific response
Keempat macam deskripsi mengenai kepribadian ini bersangkutan dengan keempat macam faktor dalam analisis faktor, yaitu :
• Type bersangkutan dengan general factor,
• Traits bersangkutan dengan group (common) factor,
• Habitual response bersangkutan dengan special (specific) factor,
• Specific response bersangkutan dengan error factor.
Demikian juga dalam bidang kognitif atau intelektual terdapat organisasi yang hirarkis, yaitu :
• Ideology
• Attitude
• Habitual opinion
• Specific opinion
Dijelaskan sebagai berikut :
- Specific response adalah tindakan atau response yang terjadi pada suatu keadaan atau kejadian tertentu, sangat khusus.
- Habitual response mempunyai corak yang lebih umum daripada specific response, yaitu response-response yang berulang-ulang terjadi kalau individu meghadapi kondisi atau situasi yang sejenis.
- Trait adalah sementara habitual response yang paling berhubungan satu sama kain yang cenderung ada pada individu tertentu.
- Type adalah organisasi di dalam individu yang lebih umum , lebih mencakup lagi.
3. Sifat-sifat Kepribadian
Eysenck membuat definisi traits hanya sedikit sekali. Perhatian pokoknya tertuju pada dimensi-dimensi dasar atau tipe-tipe kepribadian. Menurut Eysenck, sifat itu harus didefinisikan secara operasional atau disertai prosedur pengukuran tertentu. Adapun kegunaan sifat itu pertama-tama dapat dikemukakan pada peranannya untuk membuat identifikasi dimensi-dimensi daar atau tipe-tipe kepribadian, dan kedua pada pencandraan mengenai tipe-tipe kepribadian itu, sebab pada dasarnya pencandraan mengenai tipe-tipe dilakukan dengan membuat pencandraan yang teliti mengenai sifat-sifat.
4. Tipe-tipe Kebribadian
Riset Eysenck dapat dilihat bahwa diarahkan kepada suatu tujuan utama, yaitu menemukan dimensi-dimensi primer dari kepribadian yang akan memungkinkan penyusunan tipologi yang cukup baik. Pokok dari hasil penyelidikannya adalah ;
• Orang-orang yang introversi (neurotis) memperlihatkan kecenderungan untuk mengembangkan gejala-gejala ketakutan dan depresi, ditandai oleh kecenderungann obsesi mudah tersinggung, apati, saraf otonom mereka labil. Menurut pernyataan mereka sendiri mereka gampang terluka, mudah gugup, rendah diri, mudah melamu, dan sukar tidur.
• Orang-orang yang ekstraversi (neurotis) memperlihatkan kecenderungan untuk mengembangkan gejala-gejala histeris. Selanjutnya mereka terlihat sedikit energy, perhatian yang sempit, sejarah kerja yang kurang baik, hypochondris. Menurut penyataan mereka sendiri mereka gagap, mudah kecelakaan, sering sakit, tak puas, dan merasa sakit-sakitan.
Eysenck menduga, bahwa faktor-faktor keturunan memgang peran dalam hal “neuroticism” namun hasil penyelidikanny atidak menunjukkan hasil yang significan. Oleh karena itu, sesuai dengan rangka pikirannya mengenai struktur kepribadian, dia mengemukakan bahwa intelegensi adalah faktor ‘G’ pada aspek kognitif, ekstraversi-introversi itu faktor ‘G’ pada aspek afektif, maka neuroticism adalah faktor ‘G’ dalam aspek konatif. Jadi neuroticism sedikit banyak merupakan ketidaksempurnaan dalam kemampuan atau ketepatan pada perubahan bermotif.
Jadi hasil akhir dari penyelidikan Eysenck adalah diketemukannya tiga dimensi dasar atau tipe kepribadian, yaitu; introversi – ekstraversi, neuroticism, dan psychoticism. Dipandang dari segi perumusan teoritis, mungkin Eysenck tidak begitu banyak yang diberikan, akan tetapi dipandang dari segi metodologis sumbangannya sangat besar. Banyak perumusan teoritis yang ada sebelumnya di uji kebenarannya. Jasa Eysenck dalam perkembangan psikologi sosial adalah sangat besar, yang sekaligus membawa pandangan baru dalam cara pendekatan lapangan.
IV. Dinamika Kepribadian
TIPE
Eysenk menemukan dan mengelaborasi tiga tipe –E,N,P- tanpa menyatakan secara eksplisit peluang untuk menemukan dimensi yang lain pada masa yang akan datang. Namun dari pendekatan metodologik yang sangat terbuka, dimana Eysenk menyerap berbagai konsep dari banyak pakar, terkesan penambahan dan penyempurnaan terhadap teorinya sebagai sesuatu yang wajar.
Neurotisme dan Psikotisme itu bukan sifat patologis,walau tentu individu yang mengalami gangguan akan memperoleh skor yang ekstrim. Tiga dimensi itu adalah bagian normal dari struktur kepribadian. Semua bersifat bipolar; ekstraversi lawan introversi, neurotis lawan stabilita, psikotisme lawan fungsi superego. Semua orang berada dalam rentang bipolar itu mengikuti kurva normal, sebagian besar orang berada ditengah-tengah polarisasi, semakin mendekati titik ekstrim jumlahnya semakin sedikit.
1. EKSTRAVERSI – INTROVERSI
Apa yang ingin dikatakan Eysenck dengan istilah ini sangat mirip dengan istilah yang sama dengan Jung, dan juga mirip dengan pengertian awam kita tentang kedua kata ini : orang pemalu, pendiam “lawan” orang yang periang dan suka berbicara. Sifat-sifat seperti ini tentu bisa kita temukan dalam diri setiap orang. Namun penjelasan secara fisiologis belum tentu semudah yang kita bayangkan selama ini.
Dalam hipotesisnya, Eysenck menyatakan bahwa ekstraversi-introversi adalah masalah keseimbangan antara “kesabaran” dan “semangat” yang terdapat dalam otak. Gagasan ini mirip dengan yang dikemukakan Pavlov untuk menjelaskan perbedaan reaksi anjing-anjingnya ketika mengalami stres. Semangat adalah “bangkitnya” otak, menanggapi tanda bahaya, mempelajari situasi dan kondisi. Kesabaran adalah “penenangan diri” yang dilakukan otak, apakah itu dalam pengertian rileks dan tidur, maupun dalam pengertian melindungi dirinya dari keadaan yang tidak menguntungkan.
Menurut Eysenck, orang ekstravert memiliki kendali diri yang kuat. Ketika dihadapkan pada rangsangan-rangsangan traumatik – seperti tabrakan mobil – otak ekstravert akan menahan diri, artinya dia tidak akan “mengacuhkan” trauma yang dialami dan karenanya tidak akan terlalu teringat dengan apa yang telah terjadi. Setelah mengalami kecelakaan mobil, orang ekstravert mungkin akan “melupakan” apa yang dialaminya dan meminta orang lain agar berhati-hati mengendarai mobil. Karena orang ini tidak terlalu merasakan dampak kejadian itu, sehingga bisa jadi keesokan harinya dia sudah siap mengendarai mobil lagi.
Sebaliknya, orang introvert memiliki kendali diri yang buruk. Ketika mengalami trauma, seperti kecelakaan mobil tadi, otaknya tidak terlalu sigap melindungi diri dan “berdiam diri”, akan tetapi malah membesar-besarkan persoalan dan mempelajari detail-detail kejadian sehingga orang lain dapat mengingat apa yang terjadi dengan sangat jelas. Mereka bisa menceritakan kejadian itu bagaikan “gerak lambat” dalam film. Mereka baru mau mengendarai mobil setrelah beberapa lama, bahkan ada yang tidak berani sama sekali.
Sekarang bagaimana hal ini bisa melahirkan sifat pemalu. Mari kita bayangkan orang ekstravert dan introvert yang sama-sama dalam keadaan mabuk, yang mencopoti seluruh pakaian mereka, dan kemudian menari di atas meja bar dalam keadaan telanjang. Keesokan harinya, orang yang ekstravert akan bertanya pada Anda apa yang terjadi dan dimana pakaiannya. Setelah Anda beritahu apa yang terjadi dan dimana pakaiaannya Anda taruh, dia tertawa dan langsung membuat janji kapan akan mengadakan pesta minum-minum lagi. Di lain pihak, orang yang introvert akan selalu mengenang kejadian memalukan ini dan mungkin tidak akan pernah ikut pesta lagi.
Salah satu penemuan menarik Eysenck adalah bahwa pelaku tindak kejahatan dengan kekerasan biasanya adalah orang ekstrovert non-neurotistik. Pendapat ini dengan mudah dipahami kalau Anda mau sedikit merenungkannya. Tentu orang yang sangat pemalu dan selalu mengingat seluruhapa yang dialaminya secara detail tidak akan mengulangi tindakan-tindakan yang memalukan, seperti melakukan kejahatan. Namun begitu, kita juga harus paham bahwa ada berbagai macam kejahatan selain kejahatan yang bisa dilakukan orang introvert dan neurotik.
Penyebab utama perbedaan antara ekstraversi dan introversi adalah tingkat keterangsangan korteks (CAL = Cortical Arousal Level), kondisi fisiologis yang sebagian besar bersifat keturunan. CAL adalah gambaran bagaimana korteks merealisasi stimulus indrawi. CAL tingkat rendah artinya korteks tidak peka, reaksinya lemah. CAL tinggi korteks mudah terangsang untuk bereaksi. Orang yang ekstravers CAL-nya rendah sehingga banyak membutuhkan rangsangan indrawi untuk mengaktifkan korteksnya. Sebaliknya introvers CAL-nya tinggi, dia hanya membutuhkan rangsangan sedikit untuk mengaktifkan korteksnya. Jadilah orang yang introvers menarik diri, menghindar dari riuh-rendah situasi disekelilingnya yang dapat membuatnya kelebihan rangsangan.
2. NEUROTISME
Neurotisisme adalah istilah yang diberikan Eysenck untuk dimensi yang mencakup mulai dari orang-orang normal, ramah dan biasa-biasa saja sampai orang-orang yang agak sedikit “gugup”. Penelitiannya menunjukkan bahwa orang-orang gugup ini cenderung lebih banyak mengalami “gangguan kegugupan” yang biasa kita sebut neurosis. Inilah alasannya kenapa dimensi inidinamai neurotisisme. Namun begitu, kita harus ingat bahwa Eysenck menganggap orang yang skor neurotisismenya tinggi belum tentu neurotik – disini dia hanya ingin mengatakan bahwa orang-orang ini lebih mudah terserang persoalan-persoalan neurotik.
Eysenck yakin bahwa data-data kepribadian seseorang pasti berkisar antara titik normal sampai titik neurotisism, maka inipun berlaku untuk temperamen. Artinya, temperamen punya akar genetik dan dimensi kepribadian yang terkait dengan aspek fisiologis seseorang. Oleh karena itu, dia beralih pada riset-riset fisiologis untuk menemukan penjelasan-penjelasan yang memungkinkan.
Neurotisme-stabiliti mempunyai komponen hereditas yang kuat. Eysenk melaporkan beberapa penelitian yang menemukan bukti dasar genetik dari trait neurotik, seperti gangguan kecemasan, hysteria, dan obsesif kompulsif. Ada keseragaman antara orang kembar identik lebih dari kembar fraternal dalam hal jumlah tingkah laku antisocial dan asosial seperti kejahatan orang dewasa, tingkah laku menyimpang pada masa anak-anak, homoseksualitas dan alkoholisme.
Orang yang skor neurotiknya tinggi sering mempunyai kecenderungan emosional yang berlebihan dan sulit kembali normal sesudah emosinya meningkat. Mereka sering mengeluh dengan symptom fisik, seperti sakit kepala, sakit pinggang dan permasalahan yang kabur seperti khawatir dan cemas. Namun neurotisisme bukan neurosis dalam arti umum. Orang bisa saja mendapatkan skor neurotisismeyang tinggi tetapi tetap bebas dari symptom gangguan psikologis. Menurut Eysenk, skor neurotisisme mengikuti model stress-diatesis skor N tinggi lebih rentan untuk terdorong mengembangkan gangguan neurotik dibanding dengan skor N rendah, ketika menghadapi situasi yang menekan.
Dasar bilogis dari neurotisisme adalah kepekaan reaksi system syaraf otonom ( ANS = Automatic Nervous SystemReactivity). Orang yang kepekaan ANS-nya tinggi, pada kondisi lingkungan yang wajar sekalipun sudah merespon secara emosional sehingga mudah mengembangkan gangguan neurotik. Neurotisisme dan ekstraversi dapat digabung dalam bentuk hubungan CAL dan ANS dan dalam bentuk garis ordinat. Kedudukan pada setiap orang pada bidang dua dimensi itu tergantung pada tingkat ekstraversi dan tingkat neurotisismenya. Orang introvert-neurotik atau orang yang memiliki CAL dan ANS tinggi orang tersebut cenderung memiliki symptom kecemasan, depresi, fobia dan obsesi impulsive yang oleh Eysenk disebut mengidap gangguan psikis tingkat pertama (disorder of the first kind). Orang ekstravers neurotik atau yang mamiliki CAL rendah dan ANS tinggi cenderung psikopatik, kriminal, delingkuen atau mengidap gangguan psikis tingkat dua ( disorder of the second kind ). Orang normal yang introvers : tenang, berfikir dalam, dapat dipercaya. Orang yang normal ekstravers : riang, responsive, senang berbicara/bergaul
Disini yang harus dilihat adalah sistem saraf simpatetik. Sistem ini merupakan bagian dari sistem saraf otonom yang cara kerjanya terpisah dari sistem saraf pusat dan mengatur hampir seluruh respon emosional kita terhadap situasi-situasi darurat. Sebagai contoh, ketika ada sinyal dari otak kepada sistem syarat simpatetik ini, dia akan memerintahkan hati untuk mengeluarkan gula untuk energi, yang menyebabkan melambatnya sistem digestif, yang akan membuka pupil mata, mendirikan bulu-bulu di sekujur tubuh (bulu roma), dan memerintahkan adrenal untuk mengeluarkan cairan adrenalin (epinephrine). Cairan adrenalin ini kemudian merangsang fungsi tubuh dan mempersiapkan otot untuk bertindak. Secara tradisional, cara kerja sistem syaraf simpatetik ini dijelaskan dengan mengatakannya sebagai saraf yang memerintahkan kita untuk “maju terus pantang mundur” atau “ambil seribu langkah”.
Eysenck mempunyai hipotesis bahwa ada orang yang memiliki sistemsaraf simpatetik yang lebih responsif dibanding orang lain. Ada orang yang tetap tenang ketika suasana kacau-balau dan darurat; ada orang yang gemetar dan menggigil walau hanya terjadi kejadian kecil. Untuk kasus yang terakhir, dia mengatakan bahwa orang-orang ini punya masalah hiper-aktivitas simpatetik. Mereka inilah yang paling rentan terkena gangguan neurotik.
Barang kali gejala neurotik paling “mendasar” adalah kepanikan. Eysenck mengatakan bahwa kepanikan itu seperti feedback positif yang bisa muncul ketika Anda menempatkan mikrofon terlalu dekat dengan speaker. Suara lemah yang masuk ke mic diteruskan dan diperkuat lewat amplifier kemudian dikeluarkan lewat speaker, lalu masuk lagi ke mic, diteruskan dan diperkuat lagi lewat amplifier, keluar lagi dari speaker dan masuk lagi ke mic., begitu seterusnya, sehingga menciptakan suara gaduh dan mendenging.
Kepanikan juga terjadi dengan pola yang sama dengan feedback positif diatas. Anda mungkin hanya sekali takut terhadap sesuatu – menyeberangi jembatan kayu, misalnya. Hal ini kemudian merangsang sistem saraf simpatik Anda bekerja. Itulah yang membuat anda gugup. Kegugupan ini semakin menstimulasi sistem saraf Anda dan membuat Anda semakin gugup. Semakain Anda gugup, semakin besar rangsangan yang diterima sistem saraf sempatetik Anda. Anda pun bisa mengatakan bahwa orang neurotistiksebenarnya lebih menanggapi rasa paniknya sendiri ketimbang hal yang ditakutinya.
NEOROTISISME DAN EKSTRAVERSI – INTROVERSI
Masalah lain yang diselidiki Eysenck adalah interaksi antara kedua dimensi tadi dan apa pengaruhnya terhadap persoalan-persoalan psikologis. Dan menemukan, misalnya, bahwa orang yang mengalami gangguan fobia dan obsesif-kompulsif biasanya adalah orang yang introvert, sementara orang yang mengalami gangguan keseimbangan mental (misalnya, paralisis histerikal) atau gangguan ingatan (misalnya amnesia) biasanya adalah orang ekstravert.
Dia menjelaskan begini: orang neurotistik akut sangat peka terhadap hal-hal yang menakutkan. Kalau orang ini introvert, mereka akan belajar menghindari situasi yang menyebabkan kepanikan itu secepat mungkin, bahkan ada yang langsung panik walaupun situasinya belum terlalu gawat – orang inilah yang mengidap fobia. Sementara orang introvert lainnya akan mempelajari perilaku-perilaku yang dapat menghilangkan kepanikan mereka, seperti memeriksa sesuatunya berulang kali atau mencuci tangan berulang kali karena ingin memastikan tidak ada kuman yang akan membuat mereka sakit.
Sebaliknya, orang neurotistik yang ekstravert akan mengabaikan dan cepat melupakan hal-hal yang menakutkan mereka. Mereka memakai mekanisme pertahanan klasik, seperti penolakan dan represi. Mereka dengan mudah akan melupakan, misalnya akhir pekan yang buruk.
Dimensi Ekstravers – Neurotisme dengan
CAL (Cortical Arousal Level) dan ANS (Automatic Nervous System Reactivity)
Neurotisme
Introversi Ekstraversi
Stabilitas
Subyek Dimensi CAL ANS Simptom
(C) Introver-Stabilita Tinggi Rendah Normal introvers
(A) Introver Neurotik Tinggi Tinggi Gangguan psikis tingkat pertama
(D) Ekstravers-Stabilitas Rendah Rendah Normal ekstravers
(B) Ekstravers-Neurotik Rendah T inggi Gangguan psikis tingkat kedua
Menurut Eysenck dan Gudjonsson, ada korelasi negatif antara androgen (tertosterone) dengan CAL. Semakin tinggi androgen akan semakin rendah CAL. Akibatnya akan muncul sifat-sifat maskulinitas, seperti tingkah laku agresif. Secara hipotesis, hormone androgen menjadi mediator hubungan antara CAL yang rendah dengan perilaku kriminalitas.
Kecerdasan
Seperti tiga dimensi yang lain, kecerdasan lebih banyak dipengaruhi oleh keturunan. Namun penelitian belum dapat mengelaborasi faktor kecerdasan dengan keseluruhan kepribadian manusia.
3. PSIKOTISME
Eysenck sadar bahwa populasi data yang digunakan dalam penelitiannya terlalu luas dan global. Oleh karena itu, tidak menutup kemungkinan dari sekian banyak populasi data itu ada yang sebenarnya tidak patut dia pilih. Maka dia pun mulai melakukan penelitian pada rumah sakit jiwa yang ada di Inggris. Ketika fakto data-data dari lembaga ini mulai dianalisis, faktor ketiga yang mulai dianalisis pun muncul, yang dia sebut psikotisisme.
Sebagaimana halnya neurotisisme, orang psikotisistik bukan berarti mengidap psikotik., akan tetapi hanya memperlihatkan beberapa gejala yang umumnya terdapat pada diri orang-orang psikotik. Walaupun begitu, kemungkinan untuk jatuh ke kondisi psikotik sangat terbuka, tergantung berada di lingkungan mana orang itu berada.
Orang yang psikotisme-nya rendah memiliki trait merawat/baik hati, hangat, penuh perhatian, akrab, tenang, sangat social, empatik, kooperatif dan sabar, dan sebaliknya jika tinggi. Psikotis mempunyai unsure genetik yang besar. Tiga dimensi kepribadian yaitu 75% bersifat herediter dan 25% menjadi fungsi lingkungan. Psikotis mengikuti model stress-diatesis. Orang yang variable psikotisnya tinggi tidak harus psikotik, tetapi mereka mempunyai predisposisi untuk mengidap stress dan mengembangkan gangguan psikopatik. Pada masa orang hanya mengalami stress yang rendah , skor P yang tinggi mungkin masih bisa berfungsi normal, tapi ketika mengalami stress berat, orang menjadi psikopatik yang ketika stres yang berat itu sudah lewat, fungsi normal kepribadian sulit untuk diraih kembali.
Ada berbagai gejala yang biasanya ditemukan pada diri orang-orang psikotisistik, diantaranya adalah tidak punya daya respon, tidak memperdulikan kebiasaan yang lumrah berlaku dan ekspresi emosional yang tidak sesuai dengan kebiasaan. Inilah yang menyebabkan orang-orang ini disisihkan dari orang-orang normal dan harus tinggal di lembaga-lembaga yang mengurusi orang dengan gangguan mental akut.
PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN
Teori kepribadian Eysenck menekankan peran herediter sebagai faktor penentu dalam perolehan trait ekstraversi, neurotisme, psikotisme dan juga kecerdasan. Hal tersebut didasarkan pada bukti hubungan korelasional antara aspek biologis seperti CAL dan ANS dengan dimensi-dimensi kepribadian. Namun Eysenck berpendapat bahwa semua tingkah laku yang nampak, dipelajari oleh lingkungan.
Eysenck juga berpendapat bahwa inti fenomena neurotis adalah reaksi takut yang dipelajari (terkondisikan). Hal itu terjadi ketika ada satu atau dua stimulus netral diikuti dengan perasaan sakit/nyeri fisik maupun psikologis. Kalau traumanya sangat keras dan mengenai seseorang yang faktor hereditasnya rentan menjadi neurosis, maka bisa membuat orang itu mengembangkan reaksi kecemasan dengan kekuatan yang besar dan sukar berubah (diatesis stress model). Ketakutan/kecemasan selain dipicu oleh obyek atau peristiwa asli juga dipicu oleh stimulus lain yang mirip oleh stimulus asli atau stimulus yang dianggap berkaitan dengahn stimulus asli.
Mekanisme perluasan stimulus ini mengikuti Prinsip Generalisasi Stimulus dalam paradigma behaviorisme. Setiap kali orang menghadapi stimulus yang membuatnya merespon untuk mengurangi kecemasan, orang itu menjadi terkondisi perasaan takut/cemasnya dengan stimuli yang baru saja dihadapinya sehingga kecenderungan orang untuk merespon dengan tingkah laku neurotik semakin lama semakin meluas.
Eysenck menolak analisis psikodinamik yang memandang tingkah laku neuritik dikembangkan untuik mengurangi kecemasan. Menurutnya, tingkah laku neurotik sering dikembangkan tanpa alasan yang jelas, sering menjadi kontraproduktif, semakinmeningkatkan kecemasan dan bukan menguranginya. Eysenck memilih model terapi tingkah laku, atau metoda menangani tekanan psikologis yang dipusatkan pada pengubahan tingkah laku yang salah seseuai alih-alih mengembangkan pemahaman mendalam terhadap konflik di dalam jiwa.
STUDI KASUS
VERRY IDHAM HENIANSYAH
Very Idham Henyansyah, atau dikenal dengan panggilan Ryan (lahir di Jombang, 1 Februari 1978; umur 32 tahun) adalah seorang tersangka pembunuhan berantai di Jakarta dan Jombang. Kasusnya mulai terungkap setelah penemuan mayat termutilasi di Jakarta. Setelah pemeriksaan lebih lanjut, terungkap pula bahwa Ryan telah melakukan beberapa pembunuhan lainnya dan dia mengubur para korban di halaman belakang rumahnya di Jombang. Kasus ini dimulai dengan ditemukannya tujuh potongan tubuh manusia di dalam dua buah tas dan sebuah kantong plastik di dua tempat di dekat Kebun Binatang Ragunan, Jakarta Selatan pada Sabtu pagi tanggal 12 Juli 2008. Korban adalah Heri Santoso (40), seorang manager penjualan sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Heri dibunuh dan dimutilasi tubuhnya oleh Ryan di sebuah apartemen di Jalan Margonda Raya, Depok. Pengakuan Ryan, dia membunuh Heri karena tersinggung setelah Heri menawarkan sejumlah uang untuk berhubungan dengan pacarnya, Noval (seorang laki-laki). Jejak Ryan dan Noval dapat terlacak setelah mereka berdua menggunakan kartu ATM dan kartu kredit Heri untuk berfoya-foya. Setelah media memberitakan kasus mutilasi yang dilakukan Ryan, banyak masyarakat melaporkan kerabat mereka yang hilang setelah sebelumnya diketahui bersama Ryan. Polisi akhirnya membongkar bekas kolam ikan di belakang rumah orang tua Ryan di Jombang dan menemukan empat tubuh manusia di dalamnya, sebagian besar sudah tinggal kerangka. Ryan kemudian juga mengakui pembunuhan enam orang lainnya dan tubuh mereka ditemukan ditanam di halaman belakang rumah yang sama. Sehingga total sudah ditemukan sebelas korban pembunuhan Ryan.
Eysenck mengatakan bahwa salah satu karakteristik orang ekstrovert diantaranya risk-taking, yaitu senang hidup di dalam bahaya dan mencari pekerjaan yang memberikan imbalan yang baik dengan hanya sedikit menghiraukan konsekuensi yang merugikan keselamatan dan keamanannya, mereka cenderung nampak lebih hebat, menjadi pihak yang benar, dihormati, disetujui oleh orang-orang yang terpilih, seringkali menentang otoritas dan tidak mau kalah, kelebihan berargumen secara verbal menjadi pelengkap sifat tidak mau kalah dan pikiran logis mereka. Individu dengan kepribadian estrovert kerap menuntut banyak; jika mereka ditentang, mereka seringkali menjadi agresif; karena sifat alamiah mereka yang mengintimidasi dan sikapnya yang arogan. Orang ekstrovert cenderung menyatakan pendapatnya dengan agresif pada siapa saja yang merintangi jalan mereka.
Pada contoh kasus diatas, menurut pengakuan Ryan, dia membunuh Heri karena tersinggung setelah Heri menawarkan sejumlah uang untuk berhubungan dengan pacarnya, Noval (seorang laki-laki). Hal ini sesuai dengan teori Eysenck yang menyebutkan bahwa salah satu ciri orang ekstrovert. Jika mereka ditentang, mereka seringkali menjadi agresif; karena sifat alamiah mereka yang mengintimidasi dan sikapnya yang arogan.
Daftar Pustaka
E-psikologi. (2010). Mengenal Beberapa Tokoh Psikologi. Diakses pada tanggal 19 November 2010 dari http://www.e-psikologi.com/epsi/tokoh_detail.asp
Pervin. Lawrence A. dan Cervone. Daniel dkk, (2010). Psikologi Keoribadian Teori dan Penelitian. Jakarta: Kencana
Suryabrata, S., (2010). Psikologi Kepribadian. Jakarta: RajaGrafindo Persada
Wikipedia. (2010). Hans Eysenck. Diakses pada tanggal 19 November 2010 dari http://id.wikipedia.org/wiki/ Hans_Eysenck
Langganan:
Komentar (Atom)