Sabtu, 16 April 2011

Curhatan

Seperti kita melihat dunia luar maka akan terasa berlebihan jika mengatakan hidup ini sia-sia. Haya orang yang optimis yang akan menjalani hidup dengan lebih berarti bukan karena semangat mereka tapi karena mereka punya suatu kekuatan yang melandasi mereka untuk tetap menahan badai

Egoisme etis___kode etik

CREATED BY: Pramushinta Permata Sari 11091073 Nisa Vinasia 11091087 Egoisme Etis Perbedaan antara Egoisme Psikologis dan Egoisme Etis adalah bahwa Egoisme Psikologis berbicara tentang sifat perbuatan manusia, sedangkan Egoisme Etis berbicara tentang bagaimana seharusnya kita berbuat. Egoisme Etis adalah sebuah teori normatif yang menyatakan bahwa tiap orang harus mencari kebahagiaan dan pemuasaan egonya masing-masing. Moralitas menuntut kita untuk menyeimbangkan antara kepentingan kita dengan kepentingan orang lain. Tentu saja kita akan memenuhi kepentingan diri sendiri dahulu, tetapi kepentingan orang lain juga penting apalagi kalau kita bisa membantu orang lain maka kita harus melakukan itu. Kita mempunyai tugas moral yang mencakup tugas “alami” terhadap orang lain yakni kalau tindakan yang kita lakukanbdapat memberikan keuntungan atau kerugian terhadap orang lain maka itulah alasannya mengapa kita harus atau tidak boleh melakukan tindakan itu. Jadi akal sehat berkata bahwa kepentingan orang lain perlu diperhitungkan, yang dimana sesuai dengan pandangan moral. Egoisme etis merupakan teori normatif yang berisi tentang bagaimana kita seharusnya bertindak, tanpa memandang bagamana biasanya kita bertindak. Berbeda dengan egoisme psikologis yang membahas tentang bagaimana kita biasanya bertindak dan seseorang memang selalu mengjar kepentingannya sendiri. Jadi kita tidak mempunyai kewajiban moral kecuali melakukan tindakan yang mengutungkan bagi diri sediri. Didalam egoisme etis hanya ada prinsip perilaku yang utama yakni prinsip kepentingan diri yang mencakup semua tugas dan kewajiban alami seseorang, jadi tugas seseorang hanyalah membela kepentingan sendiri bukan membela kepentingan orang lain. Tetapi egoisme etis mengatakan kita tidak harus menghindari tindakan yang menolong orang lain jikalau dalam situasi tertentu bisa jadi kepentingan diri dan orang lain saling bertautan. Ataupun dengan menolong orang lain merupakan cara efektif untuk menciptakan keuntungan bagi diri sendiri. Yang membuat tindakan ini dibenarkan dalam egoisme etis adalah pada akhirnya tindakan yang dilakukan tadi akan menguntungkan diri sendiri. Egoisme etis mengajarkan bahwa kita seharusnya melakukan tindakan yang paling mnguntungkan untuk ke depannya dengan kata lain jangka panjang. Kita tidak diajarkan untuk mencari keuntungan sesaat yang akan berakibat buruk ke depannya seperti merokok, memakai narkoba dan lain-lain. Jadi egoisme etis menganjurkan “selfishness”, tetapi bukan “foolishness”. Ada tiga argumen yang mendukung Egoisme Etis yaitu : Setiap manusia paling tahu tentang kemampuan dan keinginan dirinya. Tindakan seseorang menolong orang lain seringkali justru berakhir dengan menambah beban orang yang hendak ditolongnya. Oleh sebab itu, kebijakan ‘peduli pada orang lain’ adalah menipu diri. Dalam kata-kata Robert G. Olson, ‘The individual is most likely to contribute to social betterment by rationally pursuing his own best long-range interests’. Tapi, dalam kenyataannya, argumen ini tidak mendukung Egoisme Etis, sebab argumen ini hanya berujung dengan kesimpulan bahwa tiap orang harus memiliki kebijakan tertentu menyangkut tindakan-tindakannya. Dengan demikian, semua kebijakan rasional yang kita lakukan pada gilirannya akan memberikan manfaat buat tiap orang. Artinya, kebijakan-kebijakan itu bukan semata-mata egoistis. Langkah-langkah kita pun pada puncaknya bertujuan demi kebaikan dan kemaslahatan bersama. Egoisme Etis berpijak pada realitas tiap individual, kata Ayn Rand, yang banyak terkikis akibat ajakan kepada altruisme. Inti argumen ini: karena manusia hanya punya satu kehidupan yang paling berharga, sementara altruisme adakalanya membuat satu kehidupan yang paling berharga itu harus dikorbankan demi orang lain, Egoisme Etis berupaya mengembalikannya pada posisi puncaknya seperti semula. Namun, argumen ini memiliki cacat besar, karena altruisme bukan saja tidak menganggap kehidupan individual sebagai tidak berharga atau patut dikorbankan setiap kali ada kesempatan untuk itu, melainkan altruisme sangat menghargai kehidupan individual sehingga pengorbanannya membuahkan tindakan moral yang sangat tinggi atau demi tujuan yang lebih tinggi daripada harga kehidupan individual tersebut. Egoisme Etis menyatakan bahwa kita harus memperlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan oleh orang lain. Ini barangkali merupakan argumen terbaik untuk mendukung Egoisme Etis. Tapi, argumen ini tidak menggugurkan kemungkinan alasan lain di balik tindakan altruistik seseorang kepada orang lain. Banyak orang yang berbuat untuk orang lain bukan semata-mata berangkat dari motif agar orang memperlakukan dirinya dengan cara yang sama, melainkan juga demi alasan-alasan lain. Padahal, argumen ini benar bila hanya inilah satu-satunya alasan orang harus berbuat baik kepada sesama manusia. Teori menjelaskan kewajiban-kewajiban sebagai berikut : Kewajiban untuk tidak mencederai orang lain Suatu keyakinan jika kita menyakiti orang lain maka orang lain pun akan menyakiti kita begitu pula sebaliknya. Dan jika kita melakukan hal yang buruk yang pasti hal tersebut akan merugikan diri kita. Jadi, demi keuntunungan pribadi kita sebaiknya menghindari tindakan yang merugikan orang lain. Kewajiban untuk tidak berbohong Jika kita berbohong terhadap public akan berpengaruh pada reputasi dan kepercayaan sebuah kejujuran akan membawa banyak keuntungan untuk diri kita. Kewajiban untuk memegang janji Jika kita melakukan suatu hubungan berupa kerjasama tentu saja ada peraturan atau janji yag harus ditepati. Jika kita menepati hal itu maka kemungkinan besar respon orang lain akan sama dengan kita. Berdasarkan pandangan diatas menurut Thomas Hobbes hal ini akan membawa kita pada suatu aturan emas yaitu : kita harus “ melakukan untuk orang lain” karena kalau kita melakukannya, orang lain pun akan “ melakukan untuk kita” hal yang sama. Ada banyak respon tentang hal ini salah satunya adalah argument dimana dalam pembuktiannya tidak diperoleh suatu bukti yang memadai hanya saja hal ini akan mengarakan kita kembali pada suatu pandangan hal yang umum bahwa setiap hal yang dilakukan kepada orang lain tidak lebih hanya sebuah motif untuk menguntungkan diri sendiri. Namun, tidak semua keuntungan bias didapat dari ha yang baik terkadang kita dapat mengambil suatu keuntungan dari perlakuan buruk kita terhadap orang lain. Jadi, sepertinya semua kewajiban moral kita yang dapat dijelaskan seolah dapat ditarik dari kepentingan diri. Tiga Argumen Melawan Egoisme Etis Para filsuf sejak dulu menolak pandangan terhadap suatu egoisme etis. Para filsuf mengemukakan sejumlah argument penolakan antara lain sebagai berikut : Argumen bahwa Egoisme Etis Tidak Dapat Memecahkan KOnflik Kepentingan. Dalam buku The Moral Point of View (1958), Kurt Baier berpendapat bahwa egoism etis tidak dapat dibenarkan karena tidak dapat memberikan pemecahan akan suatu masalah terutama dalam pemecahan masalah yang berkaitan dengan konflik-konflik kepentingan. Tetapi pernyataan ini ditanggapi berbeda oleh para penganut pandangan egoism etis. Bagi para pengganut egoism etis meyakini bahwa kehidupan adalah suatu rentetan panjang dari konflik-konflik dimana setiap orang akan bersaing untuk mendapatkan posisi puncak. Argumen bahwa Egoisme Etis secara Logis Konsisten Semakin banyak tentangan akan egoism etis degan pernyataan tidak dibenarkan suatu teori yang isinya berlawanan dengan dirinya sendiri. JIka menilik kasus tentag konflik kepentingan maka ada kontradiksi logis akan motif masing-masing individu dengan individu yang lain. Seperti yang dijelaskan diatas bahwa setiap individu memiliki hak untuk meraih posisi puncak dengan segala jalan termasuk menyingkirkan pihak lawan. Kontrakdiksi dari prinsip itu adalah munculnya premis tambahan berupa pernyataan “ menghalangi seseorang menjalankan kewajibannya untuk melakukan strategi adalah keliru”. Dan hal ini yang akan dianut oleh pengikut egoism etis. Bagi pengikut egoisme etis tidak peduli cara yang dilakukan itu memiliki pandangan yang benar atau tidak yang terpenting adalah tugas atau kewajiban yang kita lakukan tersebut menguntungkan atau tidak bagi diri kita. Argumen bahwa Egoisme Etis Sewenang-wenang dan Tidak Bisa Diterima Argumen ini yang paling dapat diandalkan dari semua argument penolakan yang dikeluarkan. Pandangan ini memberikan gambara mengapa kepentingan orang lain juga harus kita pikirkan. Sejumlah orang yang menganut pandangan moral yang sama menerima argument ini dengan alas an persamaan prinsip yang membuat mereka membentuk suatu kelompok tertentu. Bukan hanya prinsip namun dengan alas an kesukuan dan kebangsaan maka orang-orang menyatukan dirinya melebur dalam sebuah kelompok. Akibat dari keyakinan ini munculah sikap rasisme yang berlebihan. Dengan membedakan perlakuan terhadap orang lain yang diyakini tidak sesuai dengan standar yang telah kelompoknya tetapkan. Namun ada sebuah prinsip umum yang menghalangi pembelaan terhadap sikap ini yaitu “ kita dapat membenarkan perlakuan terhadap orang secara berbeda hanya kalau kita dapat memperlihatkan bahwa ada perbedaan factual di antara mereka, yang relevan untuk membenarkan perbedaan dalam perlakuan itu”. Egoisme etis mengajak kita untuk berfikir untuk memisahkan dunia dalam dua kategori kita dan yang lain. Maka dengan demikian kita akan berfikir untuk mementingkan ha yang satu dibandingkan dengan yang lain. Tapi dengan berfikir dengan berfikir demikian kita akan merefleksi diri kenapa kita harus begitu egois terhadap diri kita dan seberapa istimewakah kita sampai kita melakukan hal demikian. Kita harus peduli dengan orang lain alasannya hamper sama dengan mengapa kita harus peduli dengan diri kita sendiri. Semua motif manusia untuk mempertahankan kehidupannya sama namun hanya jalan yang dipilih oleh setiap orang untuk menyikapinya yang berbeda. Jika kita tidak menemukan perbedaan yang relevan antara diri kita dan mereka, maka kita harus menerima kenyataan bahwa jika kebutuhan kita terpenuhi, maka demikian juga dengan kebutuhan mereka. Kenyataan inilah yang meyakinkan kita bahwa diri kita sejajar dengan orang yang lain dan merupakan alasan yang jitu untuk menyatakan egoisme etis sebagai teori moral yang gagal.

Jumat, 15 April 2011

Hanya coretan psikologi pendidikan

“ Bukan karena hari ini adalah hari yang indah, namun saat kau menjalani semuanya dengan bahagialah yang membuat hari ini menjadi indah” Coba kita ingat kapan terakhir kali merasa sangat bahagia?. Mari kita ingat memori yang paling membahagiakan dalam hidup. Dimana letak memori itu dan kapan terjadinya?. Kemarin, minggu lalu atau tahun lalu. Kapan terakhir kali kita merasa bahwa hari ini begitu pendek dan kapan hari esok akan tiba. Jawabannya adalah hari dimana kamu menemukan sesuatu yang lebih dari rasa cinta tapi menemuka sebuah harmoni yang sangat indah dalam hidup. Jika sudah mengingat semua kenangan dari kita kecil sampai sekarang. Bagian mana yang paling menarik?. Tidak semua orang memilki kenangan indah yang sama. Tapi sebenarnya hasrat paling besar terjadi saat SMA. Ingatkah kalian masa itu?. Masa dimana kamu sudah mulai memikirkan segala hal tentang dirimu. Saat itu ego dan logikamu berjalan beriringan. Kenangan yang indah hanya akan terjadi 1X seumur hidup. Tapi, setelah itu kau bias membuat kenangan yang lebih indah dimasa yang akan datang. Sekolah itu adalah rumah kedua. Mungkin inilah perspektif umum yang sangat sering kita dengar. Sekolah adalah rumah kedua, teman adalah keluarga, dan guru adalah orang tua kedua. Inilah perspektif umum yang kita gunakan. Bagi banyak orang sekolah diibaratkan sebuah rumah namun ada pandangan lain yaitu sekolah adalah jembatan jiwa. Dimana kau bebas berekspresi disana. Kau bias mengekspresikan segala hal disana. Seperti kantong ajaib Doraemon yang bias mengeluarkan benda apa saja.Kau bebas berekspresi disana. Kelas itu seperti sebuah kumpulan alat music. Ada banyak warna, nada dan rasa disana. Seperti dalam pertunjukan instrumental dimana kau harus memadukannya maka inilah kerja kelas sebenarnya. Menyatukan berbagai rasa dan nada kedalam suatu harmonisasi yang indah. Dan disinilah kerja guru sebenarnya sebagai seorag maestro yang memimpin sebuah pertunjukan. Peran guru disini bukan hanya menderang apakah ada nada yang sumbang. Namun, harus bias mendengar, melihat, dan merasa. Mendengar apakah music yang dihasilkan sesuai dengan yang diharapkan. Merasa apakah music itu sudah sampai ketahap yang bukan hanya indah namun dapat menghanyutkan dan memberi makna lebih. Melihat apakah proses yang dijalani sudah benar. Apakah keindahan itu adalah sebuah kebetulan atau memang harmonisasi yang diciptakan memang tersistem seperti itu. Remaja itu bebas dan lepas seperti alat music yang baru. Suara dan rasanya fresh dan kencang. Kadang terdengar lirih namun terkadang sangat berisik dan keras. Suara yang dinamis itulah yang harus disatukan. Semakin dinamis suara yang dihasilkan maka semakin indah harmonisasi yang akan diciptakan. Seperti sebuah pertunjukan orkestra setiap alat akan mengambil bagiannya untuk mengindahkan suatu pertunjukan. Seperti yang dijelaskan diatas seorang guru adalah orang yang paling peka dan harus bisa membaca situasi. Jika ada harmoni yang kurang bisa mengikuti alur lagu maka harus bisa membuat harmoni yang lain menutupinya. Karena pada dasrnya untuk menciptakan harmonisasi yang indah harus ada dinamisasi nada yang beragam baru bisa menciptakan suara yang bukan hanya indah dan enak didengar namun enak dilihat dan bermakna serta meninggalkan kesan yang mendalam. Itulah guru impian. guru sebagai orang yang memimpin kelas dalam hal pencapaian suatu nilai kebersamaan. Bahwa ada hal yang lebih penting dari sekedar materi edukasi yang formal. Namun, sebuah proses pembelajaran dimana nilai moral ditanamkan secara bersama dan disepakati bersama.Tentu banyak hal yang diharapkan dari seorang guru. Ada criteria guru favorit dan ada criteria guru yang killer. Seperti sistem lama dibenci atau disukai. Dan kita sudah tahu jawabannya. Guru itu bukan hanya pintar secara materi namun yang terpenting adalah pengelolaan emosi dirinya sebagai seorang guru dan bagaimana menempatkan diri dalam lingkup kelas. Bukan hanya dapat menyegarkan dan menghidupkan suasana kelas. Guru disini juga harus membuat setiap siswa merasa rindu untuk kembali kesekolah. Khamsamhamnida