Jumat, 15 April 2011
Hanya coretan psikologi pendidikan
“ Bukan karena hari ini adalah hari yang indah, namun saat kau menjalani semuanya dengan bahagialah yang membuat hari ini menjadi indah”
Coba kita ingat kapan terakhir kali merasa sangat bahagia?. Mari kita ingat memori yang paling membahagiakan dalam hidup. Dimana letak memori itu dan kapan terjadinya?. Kemarin, minggu lalu atau tahun lalu. Kapan terakhir kali kita merasa bahwa hari ini begitu pendek dan kapan hari esok akan tiba. Jawabannya adalah hari dimana kamu menemukan sesuatu yang lebih dari rasa cinta tapi menemuka sebuah harmoni yang sangat indah dalam hidup.
Jika sudah mengingat semua kenangan dari kita kecil sampai sekarang. Bagian mana yang paling menarik?. Tidak semua orang memilki kenangan indah yang sama. Tapi sebenarnya hasrat paling besar terjadi saat SMA. Ingatkah kalian masa itu?. Masa dimana kamu sudah mulai memikirkan segala hal tentang dirimu. Saat itu ego dan logikamu berjalan beriringan.
Kenangan yang indah hanya akan terjadi 1X seumur hidup. Tapi, setelah itu kau bias membuat kenangan yang lebih indah dimasa yang akan datang. Sekolah itu adalah rumah kedua. Mungkin inilah perspektif umum yang sangat sering kita dengar. Sekolah adalah rumah kedua, teman adalah keluarga, dan guru adalah orang tua kedua. Inilah perspektif umum yang kita gunakan.
Bagi banyak orang sekolah diibaratkan sebuah rumah namun ada pandangan lain yaitu sekolah adalah jembatan jiwa. Dimana kau bebas berekspresi disana. Kau bias mengekspresikan segala hal disana. Seperti kantong ajaib Doraemon yang bias mengeluarkan benda apa saja.Kau bebas berekspresi disana.
Kelas itu seperti sebuah kumpulan alat music. Ada banyak warna, nada dan rasa disana. Seperti dalam pertunjukan instrumental dimana kau harus memadukannya maka inilah kerja kelas sebenarnya. Menyatukan berbagai rasa dan nada kedalam suatu harmonisasi yang indah. Dan disinilah kerja guru sebenarnya sebagai seorag maestro yang memimpin sebuah pertunjukan.
Peran guru disini bukan hanya menderang apakah ada nada yang sumbang. Namun, harus bias mendengar, melihat, dan merasa. Mendengar apakah music yang dihasilkan sesuai dengan yang diharapkan. Merasa apakah music itu sudah sampai ketahap yang bukan hanya indah namun dapat menghanyutkan dan memberi makna lebih. Melihat apakah proses yang dijalani sudah benar. Apakah keindahan itu adalah sebuah kebetulan atau memang harmonisasi yang diciptakan memang tersistem seperti itu.
Remaja itu bebas dan lepas seperti alat music yang baru. Suara dan rasanya fresh dan kencang. Kadang terdengar lirih namun terkadang sangat berisik dan keras. Suara yang dinamis itulah yang harus disatukan. Semakin dinamis suara yang dihasilkan maka semakin indah harmonisasi yang akan diciptakan. Seperti sebuah pertunjukan orkestra setiap alat akan mengambil bagiannya untuk mengindahkan suatu pertunjukan. Seperti yang dijelaskan diatas seorang guru adalah orang yang paling peka dan harus bisa membaca situasi. Jika ada harmoni yang kurang bisa mengikuti alur lagu maka harus bisa membuat harmoni yang lain menutupinya. Karena pada dasrnya untuk menciptakan harmonisasi yang indah harus ada dinamisasi nada yang beragam baru bisa menciptakan suara yang bukan hanya indah dan enak didengar namun enak dilihat dan bermakna serta meninggalkan kesan yang mendalam. Itulah guru impian.
guru sebagai orang yang memimpin kelas dalam hal pencapaian suatu nilai kebersamaan. Bahwa ada hal yang lebih penting dari sekedar materi edukasi yang formal. Namun, sebuah proses pembelajaran dimana nilai moral ditanamkan secara bersama dan disepakati bersama.Tentu banyak hal yang diharapkan dari seorang guru. Ada criteria guru favorit dan ada criteria guru yang killer. Seperti sistem lama dibenci atau disukai. Dan kita sudah tahu jawabannya. Guru itu bukan hanya pintar secara materi namun yang terpenting adalah pengelolaan emosi dirinya sebagai seorang guru dan bagaimana menempatkan diri dalam lingkup kelas. Bukan hanya dapat menyegarkan dan menghidupkan suasana kelas. Guru disini juga harus membuat setiap siswa merasa rindu untuk kembali kesekolah.
Khamsamhamnida
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar